Text
Konjo dalam perspektif kerajaan pesisir dan islamisasi di sulawesi selatan
Sulawesi Selatan memiliki banyak suku atau etnis yang mendiami wilayah yang berbeda-beda. Salah satu etnis yang dikenal dengan sebagau bagian dari Suku Makassar adalah Konjo. Berdasarkan wilayah searannya dan geografinya etnis Konjo dibagi dua yaitu Pesisir yang mendiami sepanjang pesisir Teluk Bone dan Konjo Pegunungan yang mendiami sekitar pegunungan Bawakaraeng memanjang ke utara. Setidaknya terdapat entitas yang dapat dikenali dari Masyarakat Konjo yaitu Phinisi yang diidentikkan dengan orang Tanaberu, Tanalemo dan Ara, Ammatoa dengan adat istiadatnya yang merepresentasikan masyarakat Kajang. Tiro sebagai pusat Islamisasi di bagian Selatan Sulawesi Selatan dengan "Dato Tiro".
Buku ini merupakan hasil penelusuran studi literatur yang sangat terbatas, sehingga bisa jadi masih ada prokontra terhadap isi dari buku ini. Namun demikian penulis sadar bahwa harus ada dokumen tertulis untuk menambah khasanah pengetahuan tentang konjo. Keterbatasan sumber atau referensi terutama referensi/literatur membahas langsung wilayah yang dikaji masih sangat kurang, memberikan motivasi tersendiri untuk membuat tulisan tentang Konjo Pesisir. Oleh karena itu buku ini diharapkan dapat menjadi pembuka wawasan bagi generasi Konjo Pesisir untuk menggali lebih dalam tentang Konjo Pesisir pada khususnya dan budaya nusantara pada umumnya.
Kekhawatiran akan kepunahan beberapa Bahasa lokal termasuk Bahasa Konjo merupakan suatu tantangan bagi penutur Bahasa tersebut. Salah satu upaya untuk mempertahankan Bahasa ibu adalah dengan memantik penutur Bahasa Konjo melalui buku ini. Nurdin Langgole mengungkapkan bahwa Bahasa Makassar, Bahasa Konjo dan Bahasa Selayar adalah 3 bahasa yang berdiri sendiri yang diperkirakan berpisah pada abad ke XIII masehi. Selain bahasanya buku ini juga membahas tentang, kerajaan atau Kekaraengan di Konjo Pesisir dan peran Dato ri Tiro dalam Islamisasi di Sulawesi Selatan. Konjo Pesisir telah berinteraksi dengan masyarakat luar sejak berabad-abad yang lalu. Temuan-temuan keramik pada makam-makam raja kuno seperti makam Karaeng Cidu di Kajang dan Karaeng Sapohatu di Tiro menggambarkan interaksi kerajaan2 tersebut telah terjalin sejak setidaknya abad ke XVII. Dinamika pemerintahan dan struktur pemerintahan mewarnai perjalanan kerajaan-kerajaan Konjo Pesisir. Hal ini disebabkan dinamika yang berkembang pada wilayah yang lebih luas misalnya penguasaan kerajaan-kerajaan besar seperti Luwu, Bone dan Gowa. Selain itu penguasaan bangsa Eropa di Nusantara ikur perbeperan dalam dinamika perjalanan sejarah kerajaan di Indonesia.
Datori Tiro bersama dua rekannya yang berasal dari Minangkabau menyiarkan Islam di Sulawesi Selatan pada awal abad ke XVII sangat terbantu oleh para pemimpin daerah yang di datanginya. Mereka menyiarkan Islam secara Top Down dengan mengislamkan pemimpin terlebih dahulu kemudian diikuti rakyatnya. Dato ri Tiro menyiarkan Islam tidak hanya di Kerajaan Tiro tetapi juga kerajaan-kerajaan Konjo lainnya seperti Kajang, Bira, Lamatti, Bulo-Bulo dan bahkan hingga ke Bima.
Walaupun penulis telah berusaha untuk menyempurnakan buku ini, namun dipastikan masih terdapat banyak kekurangan yang butuh penyempurnaan, oleh karena itu masukan dan saran dalam rangka perbaikan buku ini sangat diharapkan.
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya ditujukan kepada keturunan Karaeng Tonang yang telah memberikan motivasi dan masukan-masukan dalam penulisan buku ini. Penulis juga berterima kasih kepada komunitas Masyarakat Konjo yang membantu, memberikan referensi serta masukan guna terwujudnya tulisan dalam buku ini. Akhirnya, semoga buku ini dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi penulis sendiri.
Tidak tersedia versi lain